•
Bola Internasional
UEFA Ancam Coret Klub Liga Inggris dari Kompetisi Eropa, Ini Penyebabnya
INDOSPORT.COM - Persaingan menuju kompetisi Eropa di Premier League musim ini tidak hanya terjadi di atas lapangan. Di balik ketatnya perebutan posisi klasemen, sejumlah klub kini juga berpacu dengan waktu untuk memenuhi regulasi ketat dari UEFA terkait kepemilikan multi-klub (multi-club ownership/MCO).
Aturan ini berpotensi membuat klub kehilangan tempat di kompetisi Eropa, bahkan setelah mereka berhasil lolos secara sportif melalui liga domestik.
UEFA menegaskan bahwa integritas kompetisi adalah prinsip utama. Klub yang memiliki hubungan kepemilikan atau pengaruh signifikan dengan klub lain tidak diperbolehkan tampil di kompetisi Eropa yang sama.
Indikatornya tidak hanya soal kepemilikan saham—yang umumnya dibatasi di angka 30 persen—tetapi juga mencakup pengaruh dalam pengambilan keputusan, termasuk peran direksi dan manajemen.
Jika terjadi konflik, UEFA memiliki kewenangan untuk menurunkan satu klub ke kompetisi yang lebih rendah atau bahkan mencoret mereka dari turnamen, demikian dilansir dari laporan BBC, Senin (27/04/2026).
Kasus menarik muncul dari hubungan antara Everton dan AS Roma yang berada di bawah kendali grup investasi yang sama. Kedua klub berpeluang tampil di Liga Europa musim depan. Namun, posisi pemilik yang memiliki pengaruh di kedua klub menjadi perhatian UEFA.
Everton mengklaim telah mengambil langkah untuk memisahkan struktur pengambilan keputusan, tetapi belum mengungkapkan secara rinci solusi yang mereka siapkan.
Contoh lain datang dari Chelsea dan klub Prancis RC Strasbourg yang berada di bawah grup kepemilikan BlueCo.
Hubungan kedua klub ini dinilai sangat erat, mulai dari pertukaran pemain hingga perpindahan pelatih. Bahkan dalam satu musim, lebih dari 10 pemain tercatat berpindah antara kedua tim.
Manajemen BlueCo telah melakukan restrukturisasi dengan melepas sejumlah posisi direksi yang memiliki keterkaitan langsung. Namun, efektivitas langkah tersebut masih akan diuji oleh UEFA.
Nottingham Forest memilih pendekatan berbeda dengan menempatkan saham klub ke dalam skema “blind trust”. Langkah ini bertujuan memisahkan kontrol pemilik dari operasional klub demi menghindari konflik dengan klub lain yang juga dimilikinya, yaitu Olympiakos.
Meski demikian, UEFA belum memberikan kepastian apakah skema ini akan kembali diterima seperti kasus sebelumnya, sehingga status Forest masih menyisakan tanda tanya.
Sementara itu, Brighton & Hove Albion juga berada dalam posisi rawan. Pemilik klub memiliki keterkaitan dengan Hearts (Skotlandia) dan Union Saint-Gilloise (Belgia).
Jika ketiga klub tersebut lolos ke kompetisi Eropa yang sama, Brighton berisiko kehilangan tempat karena aturan prioritas UEFA akan mengutamakan klub dengan posisi lebih tinggi di kompetisi Eropa.
UEFA kini memberlakukan tenggat waktu kepatuhan yang lebih ketat, yakni 1 Maret setiap tahunnya. Klub yang gagal memenuhi persyaratan sebelum tanggal tersebut berisiko langsung terkena sanksi.
Kasus sebelumnya menunjukkan bahwa banding ke pengadilan arbitrase olahraga (CAS) tidak selalu berhasil, sehingga klub harus memastikan kepatuhan sejak awal.
Dengan semakin banyaknya klub Premier League yang terlibat dalam model kepemilikan multi-klub, potensi konflik regulasi pun semakin besar.
Musim ini bisa menjadi ujian nyata bagi UEFA dalam menegakkan aturan tersebut secara konsisten. Bagi klub-klub Inggris, ancaman kehilangan tiket Eropa bukan lagi sekedar teori—melainkan risiko nyata yang bisa berdampak besar secara finansial dan prestise.
Dalam situasi ini, keberhasilan di lapangan saja tidak cukup. Klub juga dituntut untuk menang dalam aspek administratif agar bisa benar-benar tampil di panggung Eropa musim depan.