•
Bola Internasional
Donald Trump Dikritik Veteran Timnas Australia, Ini Reaksi Keras Gedung Putih
INDOSPORT.COM - Kontroversi kembali menyelimuti dunia sepak bola setelah keputusan FIFA memberikan penghargaan perdamaian kepada Donald Trump menuai kritik tajam dari sejumlah pihak. Salah satu suara paling keras datang dari gelandang timnas Australia, Jackson Irvine, yang menyebut penghargaan tersebut sebagai sebuah “lelucon”.
Trump menerima penghargaan “FIFA Peace Prize” perdana dalam seremoni undian resmi Piala Dunia yang digelar pada Desember lalu. Penghargaan ini diperkenalkan oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebagai bentuk apresiasi bagi tokoh yang dinilai telah melakukan “tindakan luar biasa untuk perdamaian”.
“Ini adalah tipe pemimpin yang kita inginkan, pemimpin yang peduli terhadap masyarakat,” ujar Infantino saat itu.
Namun, keputusan tersebut langsung memicu perdebatan luas. Sejumlah kebijakan dan pernyataan Trump, termasuk isu sensitif seperti rencana akuisisi Greenland dan ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran, dinilai bertolak belakang dengan semangat perdamaian yang ingin diusung FIFA.
Jackson Irvine, yang telah mencatatkan lebih dari 80 caps bersama timnas Australia dan dijadwalkan tampil di Piala Dunia 2026, menjadi salah satu sosok yang vokal mengkritik keputusan tersebut.
Gelandang St. Pauli itu menilai penghargaan tersebut justru merusak kredibilitas FIFA dalam upayanya mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan melalui sepak bola.
“Sebagai sebuah organisasi, keputusan seperti ini justru membuat apa yang mereka bangun, termasuk piagam hak asasi manusia, terlihat tidak serius. Sepak bola seharusnya menjadi kekuatan global untuk perubahan positif,” ujar Irvine dalam wawancara yang dikutip media Inggris.
Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut mencerminkan semakin lebarnya jarak antara sepak bola elite dan akar komunitasnya.
“Langkah seperti ini justru membuat citra sepak bola di level tertinggi semakin jauh dari masyarakat. Padahal, inti dari olahraga ini ada di komunitas dan makna sosialnya,” lanjut pemain berusia 33 tahun itu.
Irvine sendiri bukan sosok sembarangan. Selain berstatus pemain senior timnas Australia, ia juga aktif dalam organisasi pemain global FIFPro dan memiliki peran advokasi dalam isu-isu sosial di sepak bola.
Di tengah gelombang kritik, Gedung Putih melalui juru bicara Davis Ingle memberikan pembelaan tegas terhadap penghargaan tersebut. Ia menilai Trump adalah sosok yang paling layak menerima penghargaan itu.
“Tidak ada orang lain di dunia ini yang lebih pantas menerima penghargaan perdamaian pertama dari FIFA selain Presiden Trump. Siapa pun yang berpikir sebaliknya jelas tidak objektif,” ujar Ingle.
Sebelumnya, pada Februari, Infantino juga sempat mempertahankan keputusan FIFA tersebut. Ia menyatakan bahwa secara objektif, Trump memang layak menerima penghargaan tersebut.
Kontroversi ini muncul di tengah persiapan menuju Piala Dunia 2026, yang akan digelar di Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama, bersama Kanada dan Meksiko. Namun, atmosfer menuju turnamen tersebut tidak sepenuhnya mulus.
Isu hak asasi manusia di Amerika Serikat serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi latar belakang yang memperumit narasi besar turnamen. Dalam konteks ini, keputusan FIFA memberikan penghargaan kepada figur politik seperti Trump justru mempertegas perdebatan tentang sejauh mana sepak bola bisa, atau seharusnya, berperan dalam isu global.
Di satu sisi, FIFA ingin memposisikan sepak bola sebagai alat diplomasi dan perdamaian. Namun di sisi lain, keputusan seperti ini menunjukkan bahwa batas antara olahraga dan politik semakin tipis, dan tidak selalu berjalan tanpa gesekan.