Dilansir dari Independent, pemain asal Tunisia, Anis Ben-Hatira resmi dipecat dari klubnya, Darmstadt. Keputusan itu diambil sendiri oleh presiden klub, Ruediger Fritsch setelah menilai sang pemain melakukan kesalahan dengan memberi bantuan kepada organisasi Islam yang mendapat pengawasan ketat dari pemerintah Jerman, yakni Ansaar International.
Sebanarnya organisasi seperti apakah Ansaar International itu? Dan mengapa organisasi ini membuat khawatir pemerintah Jerman hingga membuat Ben-Hatira dipecat oleh Darmstadt? Berikut INDOSPORT coba sajikan beberapa data mengenai organisasi tersebut.

Hatira baru saja dipecat oleh Darmstadt.
Melalui situs resminya, diketahui organisasi Islam Ansaar International pertama kali dibentuk di Jerman, tepatnya di Kota Dusseldorf pada 2012 lalu. Saat itu, Ansaar berdiri dengan landasan sebagai sebuah lembaga proyek-proyek bantuan kemanusiaan baik di dalam dan di luar Jerman.
Pada tahun 2013, organisasi ini pun sudah membangun sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, rumah sakit, panti asuhan dan lain-lain di negara-negara zona perang.
Namun, seiring perkembangannya, pergerakkan organisasi ini mulai membuat khawatir pihak pemerintahan Jerman. Hal itu dilansir dari Reuters lantaran organisasi ini terlibat dengan salah satu aliran Islam yang dianggap radikal oleh pemerintah Jerman, yaitu Salafi.
Bagi Anda yang belum mengetahui, Salafi merupakan sebuah aliran ultra konservatif dari aliran Sunni. Nama Salafi sendiri berasal dari bahasa Arab yakni 'as-Salaf as-Saliheen yang dimaksudkan sebagai pendahulu yang saleh.
Aliran Salafi ini memang sudah lama dilarang di Jerman. Alasannya pun cukup tegas karena dianggap pemerintah tidak sesuai dengan demokrasi. Mereka dianggap memiliki tujuan untuk mengubah masyarakat secara agresif.
Kelompok ini pun disebut memiliki tujuan untuk mengganti demokrasi di Jerman menjadi sistem Salafi dan menerapkan hukum Syariah.

Ansaar sudah berdiri sejak 2012 lalu.
Sejak 2013 organisai ini mulai aktif melakukan penggalangan dana untuk Suriah. Organisasi yang dipimpin langsung oleh Abdurahman Kayser ini, juga memiliki proyek di Somalia, Palestina, Afghanistan, dan Indonesia.