Tim pelatih Arema Suharno, Joko Susilo dan Kuncoro ikut ambil bagian alias turut bermain dalam laga eksebisi sepakbola yang dihelat spontanitas oleh Aremania.
“Kami hanya ingin memenuhi undangan dari Aremania untuk ikut turun ke jalan,” kata pelatih Arema Cronus, Suharno.
Bermain dijalanan sebagai bentuk sindiran pada Menpora dan sekaligus sebagai pengganti laga lanjutan QNB League 2015 melawan Persipasi Bandung Raya (PBR) di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, yang gagal digelar.
“Kita ikut sepakbola di jalaan sebagai bentuk turut prihatin dengan kondisi sepakbola negeri ini yang tidak menentu,” sambung pelatih berusia 56 ini.
Lebih lanjut, Suharno mengaku sebenarnya ingin juga mengajak para penggawa Singo Edan turun ke jalan untuk bermain sepakbola bersama.
“Sebenarnya ini tadi kami bertiga ingin mengajak pemain juga, tapi setelah kami cek ke mess, tapi anak-anak sudah berpencar pulang ke rumah masing-masing,” tambah pelatih asal Klaten Jawa Tengah ini.
Sementara itu, Dirijen Aremania, Yuli Sumpil menyatakan aksi bermain sepakbola di jalanan merupakan jawaban atas pernyataan Menpora beberapa waktu silam.
“Bapak Menpora yang terhormat pernah bilang jika Arema ingin main sepakbola ya main saja di jalan,” tandaa Yuli Sumpil.
Yuli menegaskan bahwa kemacetan di jalan yang disebabkan Aremania bermain bola tersebut sepenuhnya merupakan tanggung jawab Menpora.
“Kalau sekarang jalanan Kota Malang macet, itu tanggung jawab bapak Menpora atas perkataannya sendiri. Sampai kapan? Tentu sampai bapak Menpora mencabut kata-katanya tadi dan Arema bisa berkompetisi kembali,” tuturnya.
Lebih lanjut, Yuli menjelaskan bahwa Aremania sebenarnya juga ikut berusaha supaya Arema Cronus mendapatkan rekomendasi berlaga di kompetisi QNB League.
“Segala macam cara telah kami lakukan untuk mengetuk hati bapak Menpora agar memberi rekomendasi untuk Arema agar kembali berkompetisi, termasuk dengan mendatangi kantor tiga kepala daerah Malang Raya dan DPRD, tapi tidak ada hasilnya,” tuntasnya.