Hampir kurang lebih empat bulan persepakbolaan Indonesia yang seyogianya digulirkan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) mati suri. Hal ini berdampak sosial langsung terhadap menurunnya perekomian masyarakat yang menggantung hidup pada aspek-aspek kegiataan olahraga tersebut.
Karena merasa dirugikan akibat kehilangan mata pencarian, para pelaku sepakbola yang terdiri dari wasit, pelatih, pengawas pertandingan, perangkat pertandingan, hingga kepada tukang dagang mengadukan nasib mereka ke Komnas HAM. Rahmad Darmawan mewakili pelatih dan pelaku sepakbola berharap banyak pada peran Komnas Ham.
"Saya selaku pelatih dan pelaku langsung dari persepakbolaan Indonesia, ingin menyampaikan pengaduan tentang masalah yang selama ini kami rasakan, lebih dari itu upaya ini adalah untuk menyelamatkan sepakbola Indonesia. Saya berharap bisa menjembatani aspirasi kami," jelas mantan pelatih U-23 di Ruang Pengaduan, Asmara Nababan, Gedung Komnas HAM.

Senada dengan sikap perwakilan pelatih, Syamsudin selaku perwakilan wasit pun juga menyampaikan aspirasi yang sama di forum tersebut.
"Dampaknya sangat luar biasa yang kami terima. Ini menghilangkan mata pencarian kami, karena kami tidak punya alternatif pekerjaan lain. Kami punya keluarga dab periuk nasi yang harus kami hidupi," tutur Syamsudin.
Terhadap keluhan tersebut, masyarakat sepakbola Indonesia secara langsung menginginkan adanya penyeselesaian masalah yang diawali dari kebijakan Kemenpora. Mereka menuntut kepada Komnas HAM agar menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah untuk mencabut SK 01307/2015 tentang pembekuan PSSI.