Profil Bakat Muda Indonesia

Nicholas Yohanes Pambudi, Berlatih Tiki-Taka di Barcelona dan Mimpi Masuk Timnas Indonesia (Bag.2)

Editor Ramadhan

Setelah mendapatkan banyak ilmu sepakbola di Indonesia sewaktu kecil, Nicholas Yohanes Pambudi akhirnya diberangkatkan sang ayah, Hernoto Teguh Pambudi dan ibunya, May Pambudi untuk berjuang dan mengasah skill mengolah si kulit bundar di Spanyol.

Nicho pun terdampar di sebuah akademi sepakbola yang berada di Barcelona (Marcet Fundacion), usai melewati perjalanan panjang, termasuk saat mengalami kejadian yang kurang mengenakkan sebelum sampai di Negeri Matador.

Hebatnya, Nicho merupakan sosok anak yang sangat cepat beradaptasi di lingkungan baru, apalagi kultur sepakbola Spanyol tentu sangat berbeda dengan Indonesia.

Menguasai dua Bahasa, Inggris dan Spanyol, semakin membuat Nicho menjadi sangat mudah berkomunikasi dengan rekan-rekan setimnya dan juga staf pelatih.

“Nicho menguasai dua bahasa saja, Inggris dan Spanyol. Tapi, Nicho suka belajar Bahasa Prancis dan Rusia juga karena faktor teman-temannya di Marcet Fundacion yang berasal dari berbagai negara,” ujar ayah Nicho, Hernoto kepada INDOSPORT.

Di Marcet Fundacion, Nicho pun tinggal dan hidup di sebuah asrama khusus siswa Akademi Marcet Fundacion. Di sana, Nicho belajar banyak hal soal sepakbola termasuk menjalani sesi latihan setiap hari.

Aksi Nicholas Yohanes Pambudi (kedua dari kiri) saat memulai latihan di Barcelona, Spanyol.

Menariknya, meski berada di sebuah negara dengan atmosfer sepakbola modern dan terbaik di Eropa, Nicho mengaku menu latihan yang ia rasakan tak terlalu berat dan cenderung bisa ia ikuti dengan baik.

“Biasa saja, tidak berat (soal menu latihan). Di awal-awal memang berat, tapi kalau udah terbiasa jadinya nggak terlalu berat lagi. Soalnya latihannya pagi sama sore,” ungkap Nicholas Yohanes Pambudi saat berbincang dengan INDOSPORT.

Beruntungnya, Nicho juga ikut merasakan dilatih oleh pelatih yang juga menerapkan filofosi permainan tiki-taka yang identik dengan klub raksasa FC Barcelona dan Timnas Spanyol. Nicho pun sedikit banyak paham dengan permainan ala Lionel Messi dan kawan-kawan tersebut.

“Untung tim saya yang di Marcet itu memiliki pelatih yang menerapkan filosofi tiki taka,” kata Nicho singkat.

Di Marcet Fundacion, Nicho mengalami transformasi dalam posisi bermain. Nicho yang sejak berlatih sepakbola di Indonesia selalu bermain sebagai winger kanan, akhirnya menerima perubahan posisi menjadi fullback kanan setelah berlatih di Barcelona.

Padahal, sang ayah, Hernoto sebenarnya lebih suka jika Nicho tetap bermain di posisi pertamanya sebagai winger. Hernoto beralasan bahwa Nicho akan sering mencetak gol jika diplot di lini depan ketimbang sebagai seorang bek sayap.

Nicholas Yohanes Pambudi  (kanan) berlatih bersama rekan-rekannya di Barcelona, Spanyol.

“Waktu di akademi Refa Spanyol (2013-2014), Nicho masih bermain sebagai winger kanan. Lalu, pindah ke Marcet Fundacion dan masuk tahun pertama, Nicho masih bermain di posisi sayap,” jelas Hernoto.

“Tapi, tahun berikutnya di Marcet, Nicho diplot sebagai bek kanan. Saya sendiri heran dan tidak suka dengan posisi baru itu, jadi susah bikin gol,” keluh sang ayah soal posisi baru Nicho sebagai bek kanan.

“Namun, kata pelatihnya, Nicho punya kecepatan yang sangat bagus dan di atas rata-rata. Jadi akan sangat baik kalau dipasang di lini belakang,” sambung pria kelahiran Banyumas, 15 Desember 1973 silam tersebut.

Menariknya, meski mengalami perubahan posisi bermain sejak bergabung dengan Marcet, Nicho sendiri justru mengaku nyaman bermain sebagai bek sayap. “Lebih senang main fullback,” kata Nicho singkat menegaskan kepada INDOSPORT.

Sebagai pemain yang memiliki kemampuan hebat di posisi sayap yang memiliki kecepatan, Nicho jadi salah satu penggemar fullback kiri Real Madrid, Marcelo. Sosok bek asal Brasil tersebut sangat tepat jika menggambarkan sosok Nicho yang mengawal sisi sayap pertahanan.

Ternyata tak hanya Marcelo yang jadi pemain favorit, Nicho juga mengidolai sosok gelandang anyar Manchester United, Paul Pogba. Bagi Nicho, baik Marcelo maupun Pogba sama-sama memiliki daya kreatif yang tinggi di atas lapangan.

Nicholas Yohanes Pambudi saat berkunjung ke markas klub La Liga Spanyol, Elche.

“Pemain favorit Pogba walaupun posisi bermainnya berbeda dengan Marcelo. Soalnya mereka berdua tipe pemain yang kreatif di lapangan, juga di luar lapangan,” beber Nicho soal pemain idolanya.

Meski menjadi penggemar Marcelo dan Pogba, hal itu justru tak lantas membuat Nicho ikut menjadi penggemar Real Madrid dan Manchester United. Nicho membeberkan bahwa klub favoritnya adalah Chelsea, sang calon juara Liga Primer Inggris musim 2016/17 di bawah asuhan Antonio Conte.

“Kalo tim favorit udah dari dulu Chelsea. Terutama waktu masih diperkuat Drogba dan Lampard, dan yang lainnya,” ungkap pemain kelahiran Bekasi, 15 November 1999 silam tersebut.

Nicho sendiri merupakan sosok pemain yang aktif, tak hanya di dalam lapangan saja. Di luar aktivitasnya berlatih sepakbola di Marcet Fundacion, Nicho ternyata tetap menjalankan hobinya di berbagai bidang.

“Nicho juga hobi ­ nge-dance, editing atau design grafis, travelling, fotografi, sampai menggambar,” jelas Hernoto.

Sederet hobi yang dijalankan Nicho di luar sepakbola tersebut tentu untuk menunjang kemampuan berpikirnya. Secara tidak langsung, hal tersebut akan sangat berpengaruh dengan daya kreativitas Nicho saat mengambil keputusan di atas lapangan.

Kelak dengan bekal ilmu sepakbola yang ia pelajari di Marcet Fundacion Barcelona, Nicho bermimpi untuk memperkuat klub-klub top Eropa. Tak sampai di situ, Nicho juga sangat ingin bisa membela negara kelahirannya, Tim Nasional (Timnas) Indonesia suatu hari nanti.

Nicho Yohanes Pambudi (kedua dari kanan depan) bersama tim Marcet Fundacion.

“Ingin bermain di klub mana saja. Dan pengen banget bisa masuk Timnas Indonesia,” tegas penyuka makanan Indonesia seperti siomay dan soto sokaraja itu kala berbicara soal impiannya saat ini.

Senada dengan Nicho, sang ayah pun sangat mendukung masa depan Nicho nantinya. Apalagi jika suatu hari nanti Nicho bisa bermain untuk Skuat Garuda.

“Main di Eropa memang tujuan utama Nicho. Untuk main di Indonesia sendiri masih belum terpikir tapi bisa saja seiring berjalannya waktu, kita lihat saja nanti,” ungkap Hernoto mengamini mimpi Nicho yang ingin bermain di Eropa.

“Suatu kebanggaan bisa bermain untuk Timnas Indonesia nantinya. Perlu sekali untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta Tanah Air,” harap Hernoto kepada anak kebanggaannya tersebut.

INDOSPORT sempat menanyakan mengenai klub-klub di Eropa yang memantau bakat Nicho untuk direkrut nantinya. Menariknya, Hernoto seakan memberikan sinyal bahwa ada juga klub yang mengikuti perkembangan Nicho.

“Tapi, ada satu klub yakni CD Sabbadell yang intens melakukan komunikasi, dengan sering latih tanding (pertanyaan ini bisa terjawab bulan September 2017 nanti),” demikian penjelasan Hernoto seperti memberikan sinyal baik untuk karier Nicho.